Meratapi bukanlah hal yang indah
akan tetapi masa dalam umur selalu menyejukan untuk terus memeluk dan
takberpaling darinya, sehingga terjerumus dalam lembah keterpurukan , terkadang
jiwa yang kita miliki saat ini adalah salah satu barang klasik yang terus
dibidik dan diburu, kesejukan yang keluar menutupi panasnya keeegoisan yang
sejak dulu tersimpan bahkan lebih jauh dan lama, dari era yang tercantum dalam
kebanyakan teori, kita akan menjadi usang dalam waktu yang sangat singkat jika
hati terus bersimpati dengan tangan,kaki dan lindah dalam melakasanakan
keturputusasaan.
Kita menyimpan segala bentuk dan berbagai macam pertunjukan yang akan
kita nanti dan di ilhami oleh banyak
penggagas yang bertebaran kesana kemari, kelopak daun pinus menjadi saksi,
bunga sepatu menjawab dan menangkap pertanyaan dengan sari yang tiada henti
memberikan keanggunan meski orang yang berdedikasi tinggi terus memperkuat
pijakan kaki untuk diri sendiri, ribuan kasih meninggalkan empunya demi hari
yang di nanti ketika semua tersenyum bahagia tiada rasa gundah walau seekor
yamuk terang dan hinggap pada daun telingga yang telah pulas dari panjangnya
malam.
Pesona negeri ini sungguh menggetarkan hasrat untuk terus berdiam diri
di terpa dan memeluk cahaya mentari jiwa muda ini memang takmudah untuk berbagi,pemikiran yang tak pasti yang
takberdalil merupakan kebiasaan yang tertanam dan menumbuhkan kesengsaraan yang
mendalam, mengetahui akan lemahnya susunan stategi yang telah dirancang oleh
pikiran merupakan salah satu langkah berfikir yang memberi kesan pasti terhadap
kesanggupan dan menorehkan kemenangan.
Bulan telah tua pertanda hari ku dalam garis yang telah ku jalanani
semakin dalam kekuatan dalam kebersamaan yang ku inginkan ternyata hanya
sebatas tangisan bayi kecil yang kehausan, laut membiru menantang mata
telanjang untuk ikut menyaksikan ke elokan pesonanya spesies menjadi target
utama dan bayang mentari jadi sari pati dalam gengaman.
Oleh : Mariun Nani
No comments:
Post a Comment