Wednesday, April 13, 2016

terkurung pada kebiasaan



     
        Terkadang pandangan setiap orang tidak selalu sama, akan tetapi dalam pandangan  kesamaan dan cara pandang yang satu menuntun tujuan yang berlandaskan kebersaman akan kesatuan itu sendiri , sikap kritis dan tanggap akan keadaan bersama, merupakan modal untuk memulai bertindak dan mengerakanan tangan dan pikiran kita , yang kita pikul bukanlah untuk golongan apalagi individu, mengingat siapa dan apa yang menjadi jiwa kita.
         Setiap kita memiliki pemikiran dan gagasan yang tersimpan rapi dan bahkan kita terlalu pelit untuk mengungkapan apa yang tergaris dalam hati dan pikiran, elien kemalasan merenggut harapan para pahlawan ,mereka menanti dan meraka mendambakan kejayaan yang bersumber dari tangan kita.
           Apakah kita masaih mengingat tujuan mengapa kita berada di garis ini ? kaki dan senyum orang yang sangat menyayangi kita, harapan memeluk mereka, berfikir tentang apa yang kita lintasi dan rasa cemas yang berbelit tak kunjung reda dalam dada, sekali lagi kita terlalu pemurah dan bersahabat dengan hal-hal yang tiada berguna.
         Pena terus mengeluarkan tinta, yang tertulis bukanlah keindahan yang nyata, akan tetapi tipuan memperdaya terbentang dalam kertas putih yang mencoret dan berhamburan dan berhamburan bagai debu halaman depan pekarangan , siapa saja tak mampu mengelak untuk terperangkap dalam kemelut debu ini, kecuali jiwa yang bersatu dalam perbedaan dan menentukan  tujuan yang terarah .
        Bukan tidak menghargai ataupun menghormati  sehingga memalingkan muka dan bertolak  pada kebiasan ini kebiasaan yang menghalangi untuk terus memupuk dan mengembangkan prestasi ,secara sederhana kita tanpa sadar mampu membawa  badai yang lebih keras dan lama yang menghantam muka-muka para pencari darma dalam kehidupan.
    Ketika memiliki pohon pisang dengan pucuk ganda  adalah lebih kumemillih untuk memberikan kepada kaum yang menginginkannya, melepaskan dan bahkan lebih baik aku tak melihatnya dalam sisa umurku yang singkat ,seluruh sudut dengan rahasia  umum yang masing –masing tersipu malu akan bentuk keburukan ini, untuk terhembus ke alat pendengaran mereka sendiri ,kita tak mampu membantah adanya  rasa muak akan keburukan, akan tetapi sengguh menyayanginya dengan sengaja , gejolak dalam diri setiap individu yang membenarkan setiap hasrat  untuk terus lemah di dalam rasa kebanggaan adalah puncak kepuasan musuh yang nyata seirama dengan darah yang terus mengalir.



                                                                                                                 Oleh : Mariun Nani

No comments:

Post a Comment