Terkadang pandangan setiap orang tidak selalu
sama, akan tetapi dalam pandangan
kesamaan dan cara pandang yang satu menuntun tujuan yang berlandaskan
kebersaman akan kesatuan itu sendiri , sikap kritis dan tanggap akan keadaan
bersama, merupakan modal untuk memulai bertindak dan mengerakanan tangan dan
pikiran kita , yang kita pikul bukanlah untuk golongan apalagi individu,
mengingat siapa dan apa yang menjadi jiwa kita.
Setiap
kita memiliki pemikiran dan gagasan yang tersimpan rapi dan bahkan kita terlalu
pelit untuk mengungkapan apa yang tergaris dalam hati dan pikiran, elien
kemalasan merenggut harapan para pahlawan ,mereka menanti dan meraka
mendambakan kejayaan yang bersumber dari tangan kita.
Apakah kita masaih mengingat tujuan mengapa
kita berada di garis ini ? kaki dan senyum orang yang sangat menyayangi kita,
harapan memeluk mereka, berfikir tentang apa yang kita lintasi dan rasa cemas
yang berbelit tak kunjung reda dalam dada, sekali lagi kita terlalu pemurah dan
bersahabat dengan hal-hal yang tiada berguna.
Pena
terus mengeluarkan tinta, yang tertulis bukanlah keindahan yang nyata, akan
tetapi tipuan memperdaya terbentang dalam kertas putih yang mencoret dan
berhamburan dan berhamburan bagai debu halaman depan pekarangan , siapa saja
tak mampu mengelak untuk terperangkap dalam kemelut debu ini, kecuali jiwa yang
bersatu dalam perbedaan dan menentukan
tujuan yang terarah .
Bukan
tidak menghargai ataupun menghormati
sehingga memalingkan muka dan bertolak pada kebiasan ini kebiasaan yang menghalangi untuk
terus memupuk dan mengembangkan prestasi ,secara sederhana kita tanpa sadar
mampu membawa badai yang lebih keras dan
lama yang menghantam muka-muka para pencari darma dalam kehidupan.
Ketika memiliki
pohon pisang dengan pucuk ganda adalah
lebih kumemillih untuk memberikan kepada kaum yang menginginkannya, melepaskan
dan bahkan lebih baik aku tak melihatnya dalam sisa umurku yang singkat
,seluruh sudut dengan rahasia umum yang
masing –masing tersipu malu akan bentuk keburukan ini, untuk terhembus ke alat
pendengaran mereka sendiri ,kita tak mampu membantah adanya rasa muak akan keburukan, akan tetapi sengguh
menyayanginya dengan sengaja , gejolak dalam diri setiap individu yang
membenarkan setiap hasrat untuk terus
lemah di dalam rasa kebanggaan adalah puncak kepuasan musuh yang nyata seirama
dengan darah yang terus mengalir.
Oleh :
Mariun Nani
No comments:
Post a Comment